14 Bulan Sabit

Hujan sore ini begitu riuh 
Demikian kodok-kodok seberang sungai sana. Ribut 
Satu di antaranya kehilangan almanak 
Apa kau juga menyadarinya ? 
Gemuruh harap atau sesal yang menjejal dadanya tak kunjung reda
 
Kemudian, di salah satu sudut, pada setiap gelaknya
Ada semangkuk penuh lelah, 
dan segelas utuh letih
Saban hari berlari-lari, tiap waktu bertahan hidup
di masa lalu
 
Tetapi Sayang,
sayang sekali 
Empat belas bulan sabit pinjaman Tuhan,
tak lebih tajam dari kerah kemeja yang kau setrika di suatu pagi
 
(Tasikmalaya, 2020)

Yaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar