Instgram Twitter

suatu diktat.

  • Beranda
  • Bilik
    • Opini
    • Corat coret
      • Cerita Pendek
      • Puisi
    • Resensi
      • Buku
      • Film
  • Tentang
Hujan sore ini begitu riuh 
Demikian kodok-kodok seberang sungai sana. Ribut 
Satu di antaranya kehilangan almanak 
Apa kau juga menyadarinya ? 
Gemuruh harap atau sesal yang menjejal dadanya tak kunjung reda
 
Kemudian, di salah satu sudut, pada setiap gelaknya
Ada semangkuk penuh lelah, 
dan segelas utuh letih
Saban hari berlari-lari, tiap waktu bertahan hidup
di masa lalu
 
Tetapi Sayang,
sayang sekali 
Empat belas bulan sabit pinjaman Tuhan,
tak lebih tajam dari kerah kemeja yang kau setrika di suatu pagi
 
(Tasikmalaya, 2020)
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Sering Dibaca

  • Kedatangannya
    Di lereng, kabut-kabut mulai turun memenuhi hutan mati Serupa kalimat penegas ihwal sedih lantaran kehilangan Payung bumi dan gelap, lalu s...
  • REFLEKSI HARDIKNAS: Pendidikan Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19
    Selamat Hari Pendidikan Nasional; mari selamatkan pendidikan nasional ! Sejarah pendidikan bangsa kita telah dimulai sejak sebelum Indon...
  • 14 Bulan Sabit
    Hujan sore ini begitu riuh  Demikian kodok-kodok seberang sungai sana. Ribut  Satu di antaranya kehilangan almanak  Apa kau juga menyadariny...
  • Penantian
    Bilik sunyi perkemahan terakhir Seorang lagi, saksi siksa selusin pertemuan Katanya: "kemanakah hari-hari kemarin ? Lama nian ukuran bu...
  • Nama
    Detak ini mendetik waktu Rapalan huruf-huruf Ejaan suku-suku kata Sebuah nama

Arsip Blog

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  September (1)
      • 14 Bulan Sabit
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2018 (3)
    • ►  April (3)

Label

Argumentasi puisi
Copyright © 2015 suatu diktat.