Instgram Twitter

suatu diktat.

  • Beranda
  • Bilik
    • Opini
    • Corat coret
      • Cerita Pendek
      • Puisi
    • Resensi
      • Buku
      • Film
  • Tentang

Selamat Hari Pendidikan Nasional; mari selamatkan pendidikan nasional !

Sejarah pendidikan bangsa kita telah dimulai sejak sebelum Indonesia merdeka. Pendudukan Portugis, Belanda, Jepang, bahkan yang lebih jauh dari itu, zaman kerajaan – yang masih sangat dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang bertumpu pada alam. Dalam setiap masa, terdapat perbedaan tatanan pendidikan yang menjadi ciri khususnya. Namun, bukan bagian itu yang akan menjadi pokok dari tulisan ini, melainkan suatu upaya pendalaman atas  pertanyaan klasik terkait pendidikan di Indonesia.

Sudah sejauh mana langkah kita, sejak sejarah pendidikan bangsa kita dimulai ?

Pendidikan kerap mengambil peran strategis dalam ragam bidang kehidupan manusia. Untuk ukuran negara sekalipun, pendidikan adalah sektor penting dalam upaya pembangunannya. Merujuk pada pengalaman-pengalaman empiris, korelasi antara pendidikan dengan kemajuan suatu negara adalah berbanding lurus. Semakin baik mutu pendidikan suatu negara, maka semakin maju pula negara tersebut.

Lalu, bagaimanakah dengan pendidikan di Indonesia ?

Pendidikan di Indonesia, sejak awal (sebelum pandemi COVID-19), bukanlah pendidikan yang tanpa persoalan. Indonesia dihadapkan pada pelbagai persoalan mendasar ihwal pendidikan, diantaranya adalah sekolah yang tidak ramah anak, kualitas guru, pemerataan, diskriminasi terhadap kelompok marginal, komersialisasi, dan lain sebagainya.

Pendidikan di Republik ini, nampaknya belum bisa dibanggakan. Menurut hasil studi Programme for International Student Assesment (PISA) yang dirilis pada tahun 2018, dengan tiga kemampuan utama yang dibandingkan (matematika, membaca, dan sains), Indonesia berada dalam 10  peringkat tebawah, dari 79 negara yang berpartisipasi. Hasil tersebut menginterpretasikan kondisi pendidikan tanah air pada umumnya.

Apabila kita ingat-ingat kembali tentang sejarah panjang pendidikan bangsa ini, agaknya persoalan-persoalan tersebut memang ironis. Sifat gradual dari pendidikan di masa kolonial Belanda tidak boleh terulang lagi. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang seragam, bahwa persoalan pendidikan bukanlah persoalan perorangan, melainkan persoalan bersama yang mesti menjadi tanggung jawab bersama. Setiap orang dengan kapasitasnya masing-masing hendaknya merasa bertanggung jawab untuk menajaga label suci pendidikan, sekaligus memajukan pendidikan nasional.

Pandemi COVID-19 tidak dipungkiri, telah mengubah sebagian besar tatanan hidup manusia di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Respon pemerintah yang paling ekstrem untuk mengatasi pandemi tersebut, sejauh ini, adalah melalui Pembatasan Sosial  Berskala Besar (PSBB). Lama sebelum itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, melalui Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim, telah mengintruksikan untuk melangsungkan proses belajar daring  (online) dari rumah. Namun demikian, langkah tersebut tidak terlaksana tanpa hambatan. Dilansir dari laman resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bahwa terdapat 246 pengaduan  dari 1700 responden siswa atas survei mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang baru berjalan empat minggu itu. Hasil tersebut belum menggambarkan keseluruhan kondisi pendidikan Indonesia di tengah pandemi. Namun, sedikit banyaknya, mengindikasikan bahwa Indonesia belum siap untuk pembelajaran secara daring. Belum lagi kalau kita soroti sekolah-sekolah marginal, yang sejak awal, dalam kondisi ‘normal’ pun kesulitan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar – mengajar. 

Kondisi hari ini, wajib kita jadikan sebagai pembelajaran, sebagaimana tema Hardiknas 2020, “Belajar dari COVID-19”. Upaya-upaya perbaikan mutlak harus segera dilakukan, karena di depan sana sudah barang tentu ada tantangan-tantangan lain. Oleh karenanya, dibutuhkan usaha-usaha kolektif untuk mengatasi segala macam persoalan pendidikan Republik ini. Besar ataupun kecil kontribusi kita, mestinya bukanlah soal. Sebab sekadar memutuskan untuk turut mengambil bagian pun sudah merupakan bentuk tanggung jawab kita atas pendidikan itu sendiri.  

 

“L`education d` un peuple Est a la fois le resume de tout cequ`il croit et la source de tout
ce qu`il sera” – Compayre

 

0
Share
Bilik sunyi perkemahan terakhir
Seorang lagi, saksi siksa selusin pertemuan
Katanya: "kemanakah hari-hari kemarin ?
Lama nian ukuran bulan"

Berita baru saja tersebar
Ia tidak mati, tetapi jua tak sedang hidup
Linglung, seolah nyaris habis napas
Lantaran tenggelam di segara rindu

Tabibnya hanya satu di muka bumi
Entahlah di selainnya
Ringkih pun pilu mustahil lenyap
Kecuali seorang kembali

(Tasikmalaya, 2020)
1
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Sering Dibaca

  • Kedatangannya
    Di lereng, kabut-kabut mulai turun memenuhi hutan mati Serupa kalimat penegas ihwal sedih lantaran kehilangan Payung bumi dan gelap, lalu s...
  • REFLEKSI HARDIKNAS: Pendidikan Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19
    Selamat Hari Pendidikan Nasional; mari selamatkan pendidikan nasional ! Sejarah pendidikan bangsa kita telah dimulai sejak sebelum Indon...
  • 14 Bulan Sabit
    Hujan sore ini begitu riuh  Demikian kodok-kodok seberang sungai sana. Ribut  Satu di antaranya kehilangan almanak  Apa kau juga menyadariny...
  • Penantian
    Bilik sunyi perkemahan terakhir Seorang lagi, saksi siksa selusin pertemuan Katanya: "kemanakah hari-hari kemarin ? Lama nian ukuran bu...
  • Nama
    Detak ini mendetik waktu Rapalan huruf-huruf Ejaan suku-suku kata Sebuah nama

Arsip Blog

  • ▼  2020 (5)
    • ►  September (1)
    • ▼  Mei (2)
      • REFLEKSI HARDIKNAS: Pendidikan Indonesia di Tengah...
      • Penantian
    • ►  April (2)
  • ►  2018 (3)
    • ►  April (3)

Label

Argumentasi puisi
Copyright © 2015 suatu diktat.