Selamat Hari Pendidikan Nasional; mari
selamatkan pendidikan nasional !
Sejarah pendidikan
bangsa kita telah dimulai sejak sebelum Indonesia merdeka. Pendudukan Portugis,
Belanda, Jepang, bahkan yang lebih jauh dari itu, zaman kerajaan – yang masih sangat
dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang bertumpu pada alam. Dalam setiap
masa, terdapat perbedaan tatanan pendidikan yang menjadi ciri khususnya. Namun,
bukan bagian itu yang akan menjadi pokok dari tulisan ini, melainkan suatu upaya
pendalaman atas pertanyaan klasik terkait
pendidikan di Indonesia.
Sudah sejauh mana langkah
kita, sejak sejarah pendidikan bangsa kita dimulai ?
Pendidikan kerap mengambil
peran strategis dalam ragam bidang kehidupan manusia. Untuk ukuran negara
sekalipun, pendidikan adalah sektor penting dalam upaya pembangunannya. Merujuk
pada pengalaman-pengalaman empiris, korelasi antara pendidikan dengan kemajuan
suatu negara adalah berbanding lurus. Semakin baik mutu pendidikan suatu
negara, maka semakin maju pula negara tersebut.
Lalu,
bagaimanakah dengan pendidikan di Indonesia ?
Pendidikan
di Indonesia, sejak awal (sebelum pandemi COVID-19), bukanlah pendidikan
yang tanpa persoalan. Indonesia dihadapkan pada pelbagai persoalan mendasar
ihwal pendidikan, diantaranya adalah sekolah yang tidak ramah anak, kualitas guru,
pemerataan, diskriminasi terhadap kelompok marginal, komersialisasi, dan lain
sebagainya.
Pendidikan
di Republik ini, nampaknya belum bisa dibanggakan. Menurut hasil studi Programme
for International Student Assesment (PISA) yang dirilis pada tahun 2018, dengan tiga
kemampuan utama yang dibandingkan (matematika, membaca, dan sains), Indonesia berada
dalam 10 peringkat tebawah, dari 79
negara yang berpartisipasi. Hasil tersebut menginterpretasikan kondisi pendidikan
tanah air pada umumnya.
Apabila
kita ingat-ingat kembali tentang sejarah panjang pendidikan bangsa ini, agaknya
persoalan-persoalan tersebut memang ironis. Sifat gradual dari pendidikan di masa
kolonial Belanda tidak boleh terulang lagi. Untuk itu, diperlukan pemahaman
yang seragam, bahwa persoalan pendidikan bukanlah persoalan perorangan,
melainkan persoalan bersama yang mesti menjadi tanggung jawab bersama. Setiap
orang dengan kapasitasnya masing-masing hendaknya merasa bertanggung jawab
untuk menajaga label suci pendidikan, sekaligus memajukan pendidikan nasional.
Pandemi
COVID-19 tidak dipungkiri, telah mengubah sebagian besar tatanan hidup manusia di
seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Respon pemerintah yang paling ekstrem
untuk mengatasi pandemi tersebut, sejauh ini, adalah melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Lama sebelum itu, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan RI, melalui Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim, telah mengintruksikan
untuk melangsungkan proses belajar daring (online) dari rumah. Namun demikian, langkah
tersebut tidak terlaksana tanpa hambatan. Dilansir dari laman resmi Komisi Perlindungan
Anak Indonesia (KPAI), bahwa terdapat 246 pengaduan dari 1700 responden siswa atas survei
mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang baru berjalan empat minggu itu. Hasil
tersebut belum menggambarkan keseluruhan kondisi pendidikan Indonesia di tengah
pandemi. Namun, sedikit banyaknya, mengindikasikan bahwa Indonesia belum siap
untuk pembelajaran secara daring. Belum lagi kalau kita soroti sekolah-sekolah
marginal, yang sejak awal, dalam kondisi ‘normal’ pun kesulitan untuk menyelenggarakan
kegiatan belajar – mengajar.
Kondisi
hari ini, wajib kita jadikan sebagai pembelajaran, sebagaimana tema Hardiknas
2020, “Belajar dari COVID-19”. Upaya-upaya
perbaikan mutlak harus segera dilakukan, karena di depan sana sudah barang tentu ada tantangan-tantangan
lain. Oleh karenanya, dibutuhkan usaha-usaha kolektif untuk mengatasi segala
macam persoalan pendidikan Republik ini. Besar ataupun kecil kontribusi kita,
mestinya bukanlah soal. Sebab sekadar memutuskan untuk turut mengambil bagian
pun sudah merupakan bentuk tanggung jawab kita atas pendidikan itu sendiri.
“L`education d` un peuple Est a la fois le
resume de tout cequ`il croit et la source de tout
ce qu`il sera” – Compayre